Mata itu menjalar ke setiap sudut yang bisa dijelajahinya. Memperhatikan sedetail mungkin situasi yang bisa dijangkaunya. Bisunya malam pun menjadi saksi bagaimana mata coklat itu beradu gerak dengan langkah tidak teratur. “Sob, tidak salahkah kita ke sana malam ini juga?” lontaran kata kata itu tiba-tiba muncul. “Kau cemas? Atau kurang bermental?” kata seorang membalas. “Bukan begitu, tapi kau tahu sekarang piket siapa? Nanti kalau ada apa-apa kita juga yang dapat getahnya?” pernyataan balasan itu tiba-tiba mengganggu. “Sudahlah, jangan pikirkan itu. Jalan saja terus,” datar dan jelas jawabannya. *** Hanya ada bisikan suara di ruangan kecil itu. Tidak cukup kuat bahkan untuk merambat beberapa meter menuju gendang kuping. Kepulan asap menjadi penghias kegelapan yang seolah jadi teman wajib beberapa wajah tiap kali malam menjemput. “Dek aman?” pertanyaan dingin itu seolah membuka pembicaraan. “Siap aman bang,” balas seorang berkepala plontos. Pria berkulit putih ya...