MEREKA DAN MALAM
Mata itu menjalar ke setiap
sudut yang bisa dijelajahinya. Memperhatikan sedetail mungkin situasi yang bisa
dijangkaunya. Bisunya malam pun menjadi saksi bagaimana mata coklat itu beradu
gerak dengan langkah tidak teratur.
“Sob, tidak salahkah kita ke
sana malam ini juga?” lontaran kata kata itu tiba-tiba muncul.
“Kau cemas? Atau kurang
bermental?” kata seorang membalas.
“Bukan begitu, tapi kau tahu
sekarang piket siapa? Nanti kalau ada apa-apa kita juga yang dapat getahnya?”
pernyataan balasan itu tiba-tiba mengganggu.
“Sudahlah, jangan pikirkan
itu. Jalan saja terus,” datar dan jelas jawabannya.
***
Hanya ada bisikan suara di
ruangan kecil itu. Tidak cukup kuat bahkan untuk merambat beberapa meter menuju
gendang kuping. Kepulan asap menjadi penghias kegelapan yang seolah jadi teman
wajib beberapa wajah tiap kali malam menjemput.
“Dek aman?” pertanyaan
dingin itu seolah membuka pembicaraan.
“Siap aman bang,” balas
seorang berkepala plontos.
Pria berkulit putih yang
terkenal karena kesaktian tongkatnya tiba-tiba mulai beranjak. Ia menenteng
hartanya menuju deretan lemari belakang. Belum tiga langkah kakinya berayun,
terdengar seruannya menggema.
“Oh ya. Menghadap kakak yang
lain saja. Besok baru ke sini lagi. Jangan lupa bilang sama yang lainnya.”
“Siap bang,” datar, singkat
seperti biasanya.
***
02.15. Waktu yang masih
relevan untuk manusia-manusia berkepala plontos kembali. Setelah cukup lama
membunuh malam dengan tradisi yang dinilai sakral, salam pamit pun akhirnya
bisa dilontarkan. Sebelum beranjak, benda-benda yang disakralkan itu diletakkan
hati-hati di tempatnya. Ada pantulan kemilau dari struktur keras peraknya.
Aroma alkohol pun sedikit menyeruak dari poros yang baru dibersihkan.
“Izin kaka kita pamit.”
“Sudah semuanya adik?” tanya
lelaki beraksen timur dengan sikap ramahnya.
“Ijin kaka sudah, sudah
ditaruh di tempatnya juga kaka.”
“Makasih banyak e. Kalau
begitu balik sudah. Hati hati di jalan. Ingat, berani memulai berarti harus
bisa menyelesaikan.”
Pesan singkat itu menutup
rangkaian aktivitas tradisi malam itu. Mata yang sudah terkantuk-kantuk
pertanda selimut dan sprei hangat merindu di seberang sana. Tradisi, kebanggan,
atau apalah istilahnya sepertinya akan terus menguras istirahat malam. Tapi itulah
seninya, dipilih, hanya bisa diterima tanpa ada kata “tidak” sekalipun.
Cilandak, 31 Juli 2019, 06.14 am
Mengenang memori hidup lembah Manglayang
Komentar
Posting Komentar