DUC IN ALTUM[1]
Hidup terlalu singkat untuk
dijalani
Terlalu
luas untuk dipahami
tetapi hidup menjadi berarti
ketika lepas dari segala
sesuatu
Keluar
dari diri sendiri
Memecah dinding keegoisan
yang memenjarakan diri dalam
ke’AKU’an[2]
Segurat senyum terpahat di wajah Ine[3]Maria.
Dengan hati berbunga, ia melangkah arungi hutan kecil di desanya. Rambutnya
yang keputih-putihan berkilau menerima senyum sang fajar. Usianya yang memasuki
kepala enam seolah tak menyurutkan semangat 45-nya.
Ine Maria memungut ranting-ranting kering. Ia menunduk
sambil sesekali tangan kanannya memainkan sua[4].
Ia sadar betul anugerah alam yang maha indah itu. Alam memberikan segalanya
bagi manusia. Sayang, manusia jarang mensyukuri apa yang sudah alam berikan. Manusia
hidup dalam ketamakannya. Alam dikeruk. Dieksploitasi berlebihan.
Permenungan Ine Maria tiba-tiba pecah oleh deru suara
mobil. Suara itu mengganggu ketenangan alam. Burung-burung terbang menjauh.
Pertanda alam ingin berontak. Di dalam benaknya, Ine Maria hafal betul deru
mobil siapa itu. Ia tahu orang itu datang untuknya. Orang itu ingin membopong
Ine Maria. Membopongnya kembali ke tanah yang tak pernah didambanya.
“Tidak usah bermain petak umpet, nak. Ine tahu kau di
situ. Tampakkan batang hidungmu. Jangan menyembunyikan dirimu dalam semak-semak
dunia. Dirimu bukan bocah ingusan lagi. Kau sudah besar, seperti matahari yang
kian meninggi ini,” suara Ine menggema di tengah diamnya pepohonan.
Sesosok pria muda menampakkan wujudnya. Ia berjalan
keluar dari balik rimbunnya belukar. Langkahnya pasti dan teratur. Sesekali ia
menarik nafas dalam-dalam. Udara yang dihembuskannya berpadu bersama semilir
angin hutan.
“Ine, maafkanlah anakmu ini. Aku tahu kehadiranku
mengganggu kedamaianmu. Aku tahu hutan ini pun tak menghendaki kedatanganku.
Tapi biarkan rasa rinduku menemui pemenuhannya. Aku ingin mengajak Ine kembali
ke rumah. Kembali menuju kediaman kita di kota.”
Wajah Ine berubah masam. Tak sudi ia mendengar celoteh
anak semata wayangnya itu. Sudah Ine jelaskan berkali-kali kota bukanlah
rumahnya. Kota hanya menghadirkan rupa-rupa kebahagiaan semu. Ine tidak pernah
menemukan kedamaian menjalani hari-harinya dikelilingi gedung-gedung pencakar
langit. Di tengah hiruk-pikuk keramaian yang tak pernah mati. Di tengah pulau
kemegahan yang berhiaskan samudera kemiskinan, pemerkosaan, pemerasan, dan
unek-unek kejahatan dunia lainnya.
Sesaat hanya kebisuan yang mengisi jarak keduanya. Suara
jangkrik bahkan tak berani bersua. Ine tetap berdiri mematung. Tidak pernah dibayangkannya
betapa keras kepala anaknya itu. Harus berapa kali lagi ia jelaskan bahwa di
desa kecil inilah ia akan menghabiskan hari tuanya. Ine bukan tak rindu
ditemani buah hatinya. Ia tahu anaknya berjuang keras menyediakan apapun yang
ia butuhkan di kota. Namun, hati dan pendiriannya tak bisa diajak berkompromi.
Ine ingin di penghujung waktunya ada sumbangsih yang dapat ia beri bagi
masyarakat desa.
“Haruskah kita melangkah ke kota yang penuh tanya?” Ine bertanya dalam nada parau.
“Kota memang penuh tanda tanya. Aku sadar akan itu Ine.
Kota menghadirkan ketidakpastian hidup, selalu setiap saat. Hidup di kota sama
artinya terperosok dalam mekanisme siapa kuat dia berkuasa. Hidup di kota
berarti menjadi hamba bos-bos besar. Menghidupkan asas asal bapak senang. Tapi aku bukan orang seperti itu. Aku
bekerja dan mendapatkan upah secara halal. Aku berjuang dengan seluruh dayaku.
Apa yang aku raih adalah bukti kerja kerasku. Aku sekarang hidup dalam
kelimpahan dan kelimpahan itulah yang ingin aku persembahkan untuk Ine.”
Ine terharu mendengar kesungguhan hati anaknya. Tanpa
sadar embun-embun bening mengalir dari kedua matanya. Perasaan Ine campur aduk.
Ia digerogoti kekalutan. Ia bukan meratapi keinginan anaknya. Ia meratapi
kenyataan yang dengan kejam memisahkan mimpi seorang ibu dengan harapan
anaknya.
Hati Ine semakin hancur menyadari anaknya dibutakan
idealismenya sendiri. Anaknya merasa hidup dalam kelimpahan. Namun, kelimpahan
itulah bumerangnya. Kelimpahan adalah cermin kemiskinan, kekurangan akan cinta
dan rasa cukup. Persis itulah yang diperlihatkan masyarakat kota. Mereka
menderita sindrom tak pernah puas. Hidup dipahami sebagai arena kompetisi. Setiap
hari mereka berlomba mendapatkan harta, uang, dan jabatan. Ternyata semua itu
tak dapat menyirami kegersangan hati mereka. Ujung-ujungnya mereka terus
berkompetisi hingga mati tanpa mengecap makna kebahagiaan sejati.
Ine ingin anaknya menyadari itu. Sadar bahwa orientasi
hidupnya selama ini adalah kesia-siaan belaka. Kebahagiaan tidak harus
dibuktikan dalam kelimpahan barang-barang duniawi. Sifatnya sementara. Malah
membuat hati gelisah dan tak kharuan. Kebahagiaan sejati berarti melepas
segalanya. Melepaskan diri dari ketergantungan kepada dunia. Mengosongkan
pikiran dan hati dari segala yang mengganggu layaknya nasihat Buddha, “Berisi
adalah kosong dan kosong adalah berisi.” Kekosongan itu lalu diisi dengan
kelimpahan cinta, kelimpahan kasih sayang yang tulus.
Dari sorot matanya, Ine bisa melihat kekeringan hati
anaknya. Suatu dahaga akan kelimpahan cinta. Anaknya betul telah terbenam dalam
samudera minim kasih sayang.
“Nak, Ine tahu kesungguhanmu. Ine tahu betapa kau
membanting tulang demi membahagiakan Inemu ini. Tetapi izinkan Ine mengatakan
ini. Biarkan kamu marah tetapi jangan berbuat dosa.[5]
Persembahkan kurban yang benar dan percayalah kepada Tuhan.[6]
Semuanya ini Ine katakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya, kamu ingat
bahwa Ine telah mengatakannya kepadamu. Bertolaklah ke tempat yang dalam.[7]”
Penulis adalah siswa kelas XII Ilmu Alam
Berasal dari Paroki Maria Asumptha Maronggela
[1]Pepatah Latin. Artinya ‘Bertolaklah ke tempat yang
dalam.’
[2]lepas
dari segala sesuatu... dalam ke’AKU’an merupakan penggalan dari puisi ‘Misi Berarti Meninggalkan’ karya Uskup
Agung Helder Camara (Uskup Agung Brazil), seorang pejuang kemanusiaan.
[3]Dalam bahasa Riung berarti mama atau bunda.
[4]Bahasa Riung. Artinya parang atau golok.
[5]Mazmur 3:5.
[6]Mazmur 3:6.
[7]Ucapan Yesus dalam Lukas 5:4 tentang ‘Penjala Ikan
Menjadi Penjala Manusia.’

Komentar
Posting Komentar