Sapu Tangan Biru

Ingatkah kau rintik hujan sore itu? Mungkin ia mungkin tidak. Tetapi bagiku, sore itu adalah kenangan yang telah menjadi fosil. Aku ingat saat kau berlarian dari arah gerbang depan. Pakaianmu sudah berlumuran air langit. Tiba-tiba saja arah larimu sedikit melenceng ke arahku. Bukan. Tepatnya langsung ke arahku. Tubuhmu berhenti. Karena jarak yang terlalu dekat aku bahkan bisa melihat uang dari tubuhmu.
“Kaka bisa pinjam sapu tangan?” suaramu, pertanyaanmu yang mendadak mempercepat kerja jantungku.
“Ada, ini,” spontan aku berikan apa yang menjadi pintamu. Gugup.
Seingatku itu kali pertama kita berbicara. Kali pertama pula kulihat wajahmu lebih dekat. Entah sikap apatismu yang menjadikanku belum mengenalmu, atau kesempatan yang jarang mempertemukan, jujur aku bingung. Intinya itulah awal yang membangkitkan rasa ingin tahu. Aku ingin tahu kau dan hidupmu dan kau yang ingin mengajukan beribu pertanyaan tentangku.
Sapu tangan biru. Lagi lagi benda kecil itu mengingatkanku tentangmu. Sebatang mengingat mengingat jarak dan waktu yang membelenggu. Aku di sini di kota seribu cerita dan kau ujung timur Nusantara. Lelah dalam penantian tentu wajar, tetapi bukan persoalan. Bukan pula alasan. Aku yakin dan aku berharap begitu dengan kau di sana, kita berpijak pada kepercayaan dan komitmen.

Komentar